| Sumber : | Akuntabilitas : Jurnal Ilmiah Akuntansi |
| Penerbit : | Jurusan Akuntansi Universitas Pancasila |
| Tahun Terbit Artikel: | 2007 |
| Volume : | 7 |
| No : | 1 |
| Halaman : | 38-44 |
| Kata Kunci : | Earnings management; Return on investments; Financial performance |
| Abstrak : | The objective of this study is to find out empilical evidence of the effect of ownership structures and financial performance on earnings management and the impact on stocks return study on manufacturing companies listed at Indonesia Stock Exchange. The population of the study are listed manufactudng companies at Indonesia stock Exchange, and the sample used in this study is based on the annual financial reports ended 31 December, information on the ownership stock and financial highlights over 2001 - 2005. The conclusions of the study are as follows: (1) if the size, leverage and profitability become bigger so the earnings management become bigger too, while if the institutional ownership structures and managerial ownership structures become bigger, so the earnings management become smaller; (2) if the institutional ownership structures, size and profitability become bigger so stocks return become bigger too, while if the managerial ownership structures, leverage and earnings management become bigger so stocks return become smaller. |
Showing posts with label Earnings Management. Show all posts
Showing posts with label Earnings Management. Show all posts
Monday, June 27, 2011
Pengaruh Karakteristik Perusahaan Terhadap Manajemen Laba dan Dampaknya Pada Return Saham
UJI BEDA MANAJEMEN LABA SEBELUM DAN SELAMA KRISIS DI INDONESIA
KINERJA, Volume 10, No.2, Th. 2006: Hal. 172-182
I Putu Sugiartha Sanjaya
D. Agus Budi Raharjo
Universitas Atma Jaya Yogyakarta
Abstract
Scott (2000) explained patterns of earnings management as taking a bath and income minimization. Taking a bath can be made during periods of organizational stress or reorganization, including the hiring of a new CEO. If a firm must report a loss, management may feel compelled to report a large one. Consequently, it will write off assets, provide for expected future costs, and generally clear of decks. This will enhance the probability of future reported profits. Income minimization is similar to taking a bath, but fewer extremes. A politically visible firm may choose patterns during periods of high profitability. Policies that suggest income minimization include rapid write-offs of capital assets and intangibles, expensing of advertising and R&D expenditures. The objective of this study is to investigate which pattern of earnings management chosen by management during economic crisis in Indonesia. Therefore, there are differences on earnings management between before the economic crisis and during the economic crisis in Indonesia. To test the hypothesis of this study, data are collected from Jakarta Stock Exchange for manufacturing companies. There are 27 companies. The result of this study suggests that management is most likely to make income decreasing to taking a bath.
Keywords: earnings management, economic crisis, taking a bath, and income minimization.
PENDAHULUAN
Indonesia pada pertengahan tahun 1997 mengalami krisis ekonomi. Secara common sense krisis ini mengakibatkan perusahaan-perusahaan mengalami kerugian. Kondisi ini merupakan suatu periode organizational stress. Menurut Healy (1985), jika perusahaan mendapatkan laba bersih di bawah batas bawah dari rencana bonus bagi manajemen maka manajemen perusahaan ini akan melakukan taking a bath atau clean the desk. Tindakan ini dilakukan karena manajemen merasa lebih baik melaporkan kerugian yang lebih besar untuk mendapat probabilitas laba yang semakin besar di masa yang akan datang. Taking a bath merupakan salah satu bentuk manajemen melakukan manajemen laba (Scott, 2000). Oleh karena itu, studi ini bertujuan untuk membuktikan secara empiris apakah ada perbedaan manajemen laba antara sebelum krisis dengan selama krisis di Indonesia. Isu ini menarik untuk diteliti, karena selama kondisi krisis perusahaan-perusahaan di Indonesia pada umumnya mengalami penurunan laba atau peningkatan kerugian. Kerugian ini memicu manajer untuk lebih memilih menurunkan laba dibanding dengan menaikkan laba untuk memenuhi perjanjian utang.
Praktik menurunkan laba (manajemen laba) terjadi ketika manajemen menggunakan judgment dalam penyusunan laporan keuangan dan strukturisasi transaksi-transaksi dengan maksud untuk menyesatkan beberapa stakeholder tentang kinerja perusahaan. Tindakan ini dilakukan oleh manajemen karena termotivasi antra lain oleh pasar modal, kontrak, dan regulator (Healy dan Wahlen, 1999), serta tujuan bonus, kontraktual lainnya, politik, pajak, pergantian dalam CEO, penawaran saham perdana, dan komunikasi informasi kepada investor (Scott, 2000).
Praktik manajemen laba telah mendapat perhatian serius dari Ketua Securities and Exchange Commission (SEC), Arthur Levitt, Jr., yang mengumumkan "an all-out war on earnings management” karena manajemen cenderung melakukan tindakan ini untuk “kepentingannya sendiri”. Beberapa studi telah membuktikan bahwa manajemen melakukan praktik manajemen laba untuk tujuan-tujuan tertentu, misalkan Healy (1985), Guidry et al. (1999), Gaver et al. (1995), dan Holthausen et al. (1995) membuktikan manajemen laba dilakukan karena tujuan bonus.
Sweeney (1994) dan DeFond dan Jiambalvo (1994) membuktikan manajemen laba dilakukan karena ada kontrak-kontrak lain yaitu kontrak pinjaman jangka panjang yang di dalamnya berisikan perjanjian untuk mengamankan pemberi pinjaman terhadap tindakan manajer yang berlawanan dengan kepentingan pemberi pinjaman. Jones (1991), Cahan (1992), Na'im dan Hartono (1996), Navissi (1999), dan Key (1997) membuktikan bahwa perusahaan melakukan praktik manajemen laba untuk menurunkan visibilitinya dengan cara menggunakan prosedur akuntansi guna menurunkan laba bersih yang dilaporkan. Dopuch dan Pincus (1988) membuktikan bahwa manajemen laba dilakukan dengan tujuan income taxation.
Perry dan Williams (1994), Burgstahler dan Dichev (1997, Teoh et al. (1998a), Teoh et al. (1998b), Rangan (1998), Erickson dan Wang (1999) membutkikan bahwa manajemen melakukan manajemen laba untuk tujuan pasar modal. Untuk Indonesia, penelitian manajemen laba yang berhubungan dengan motivasi pasar modal dilakukan oleh Kiswara (1999), Saiful (2002), dan Sulistyanto (2002). Manajemen melakukan tindakan ini karena para pelaku pasar modal membutuhkan informasi. Salah satu informasi adalah informasi akuntansi yang digunakan oleh investor dan para analis keuangan untuk menilai saham.
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MOTIVASI MANAJEMEN LABA DI SEPUTAR RIGHT ISSUE
Universitas Slamet Riyadi Surakarta
ABSTRACT
This research is aimed at analysing factors influencing the motivation of management to conduct earnings management activity around the timing of right issue, and investigating whether there are any differences between discretionary accruals before and after the right issue, that is the discretionary accruals tend to be high before the right issue than that of after the right issue. Some factors influencing the motivation of earnings management used in this research are ownership structures, consisted of institutional ownership, managerial ownership, leverage and size; in this research size was included into controlled variable and earnings management was substituted (proxy) with discretionary accruals.
The sample of this research consists of companies conducting the right issue between the year of 1998-2001, with 2 years observation period before and after the right issue. Therefore, the period included in this research is 1996-2003. Hypothesis testing is conducted using regression, while pair t-test is used to investigate the differences of discretionary accruals before and after the right issue. The result shows that leverage influences the earnings management positively and significantly. It means that the higher the leverage, the more the management is motivated to conduct earnings management. In addition, the result of the study shows that there are differences between discretionary accruals before the right issue and that of after the right issue, i.e. the discretionary accruals before the right issue tends to be higher than that of after.
Keywords : management motivation, earnings management, ownership structure, leverage
PENDAHULUAN
Perusahaan membutuhkan modal untuk keperluan operasional rutin. Hal itu dapat dipenuhi dengan menerbitkan saham dan menjual kepada publik melalui penjualan saham kepada masyarakat (public offerings) dengan initial public offerings (IPO) atau penawaran kedua, ketiga, dan seterusnya atau seasoned equity offerings (SEO) atau cara lain dengan menjual saham kepada pemegang saham lama (right issue).
Agar kinerja perusahaan terlihat bagus, manajemen berusaha untuk mengatur laba, yaitu dengan melakukan manajemen laba. Ada berbagai cara dalam manajemen laba, di antaranya pemilihan metode akuntansi atau kebijakan akrual, tetapi cara yang paling sering dilakukan adalah dengan kebijakan akrual atau discretionary accruals, yaitu dengan mengendalikan transaksi akrual sehingga laba terlihat tinggi. Akan tetapi, transaksi tersebut tidak mempengaruhi aliran kas, misalnya waktu dari pengakuan pendapatan sehingga kebijakan akrual akan dapat mempengaruhi kualitas laba suatu perusahaan. Diungkapkan oleh Roshan bahwa transaksi akrual terdiri atas transaksi non-discretionary accruals dan discretionary accruals, transaksi non-discretionary accruals misalnya biaya depresiasi, sedangkan transaksi discretionary accruals misalnya waktu dari pengakuan pendapatan (Roshan, 1998).
Sejumlah studi menggunakan model kebijakan akrual untuk meneliti manipulasi dari akrual dalam mencapai tujuan earnings management (Dechow, 2002). Beberapa literatur audit juga membahas mengenai pengaruh transaksi akrual klien serta keputusan yang dibuat oleh auditor sehubungan dengan penggunaan kebijakan akrual yang tercermin dari opini audit. Akan tetapi, hal ini sulit untuk dapat dikaitkan dengan opini audit karena pada dasarnya penerapan kebijakan akrual hakikatnya dapat dilakukan sepanjang hal itu tidak menyimpang dari standar akuntansi keuangan yang berlaku umum. Hal ini sejalan dengan fungsi audit adalah untuk menyediakan atau mengkomunikasikan informasi kepada investor mengenai kinerja perusahaan karena tuntutan perusahaan adalah untuk dapat memberikan informasi yang kredibel kepada pihak luar (Datar et al., 1991).
Beberapa penelitian mengenai manajemen laba (earnings management) ini sebagian besar dikaitkan dengan kinerja perusahaan dengan membandingkan bagaimana kinerja perusahaan sebelum dan sesudah melakukan penawaran saham akibat dari adanya aktivitas manajemen laba. Penurunan kinerja dalam jangka panjang di seputar penawaran terjadi karena meningkatnya transaksi discretionary accruals yang berasal dari manajemen laba (Rangan, 1998; Teoh et al., 1998; Shivakumar, 2000; Fidyati, 2004).
Beberapa penelitian di atas memberikan inspirasi bagi peneliti untuk melakukan penelitian yang terkait dengan manajemen laba (earnings management). Akan tetapi, penelitian ini berbeda dengan beberapa penelitian sebelumnya karena penelitian ini ingin membuktikan beberapa factor yang mempengaruhi motivasi manajemen untuk melakukan aktivitas manajemen laba (earnings management), terutama pada saat perusahaan melakukan penawaran saham terbatas pada pemegang saham lama (right issue), yang biasanya permasalahan ini luput dari pengamatan beberapa peneliti sebelumnya. Meskipun terdapat penelitian sebelumnya yang juga meneliti aspek yang memotivasi earnings management di seputar right issue seperti yang dilakukan oleh Iqbal et al. (2000), setting penelitian berbeda dan alat analisis yang digunakan juga berbeda dengan penelitian sekarang. Dengan demikian, dalam penelitian ini peneliti ingin membuktikan faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas manajemen laba di seputar right issue di Indonesia dan faktor-faktor yang diteliti berbeda dengan penelitian sebelumnya serta alat analisis yang berbeda dengan sebelumnya.
Peneliti ingin membuktikan apakah pada saat right issue juga terdapat perbedaan earnings management, yang dalam hal ini diproksi dengan diskresioner akrual antara sebelum dan sesudah melakukan right issue. Hal itu penting karena dari beberapa penelitian yang meneliti pada saat perusahaan melakukan penawaran saham kepada publik (selain right issue) terdapat indikasi perbedaan earnings management antara sebelum dan sesudah melakukan penawaran saham kepada public. Hal ini terkait dengan keinginan untuk menunjukkan kinerja yang lebih bagus. Beberapa hal tersebut melatarbelakangi penulis untuk meneliti masalah faktor yang memotivasi aktivitas earnings management di seputar right issue.
Permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah apa saja faktor yang memotivasi manajemen dalam melakukan aktivitas manajemen laba dan apakah terdapat indikasi terjadi manajemen laba sebelum right issue. Tujuan penelitian adalah mendapatkan bukti secara empiris beberapa faktor yang memotivasi manajemen untuk melakukan manajemen laba di seputar right issue dan mengetahui apakah diskresioner akrual sebelum right issue cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan sesudah right issue.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Das Kapital
Das Kapital by Karl Marx My rating: 5 of 5 stars Karl Marx's Capital can be read as a work of economics, sociology and history. He...
-
Das Kapital by Karl Marx My rating: 5 of 5 stars Karl Marx's Capital can be read as a work of economics, sociology and history. He...
-
This thesis consists of four studies on the interactions of capital structure and product market competition, and on several aspects of g...
-
This thesis comprises three essays on asset pricing on the stock and options markets. The first essay finds a positive relation between the...